Zakaria Perintis Kemerdekaan RI Dari Solok Selatan


Perjuangan kemerdekaan RI sejak tahun 1920-an telah sambung menyambung dilakukan oleh pemuda2 Indonesia, jauh sebelum Sumpah Pemuda di ikrarkan tahun 1928. Kita mengenal sebut saja Tokoh Pemimpin Bung Karno, atau dari ranah Minangkabau seperti Bung Hatta, Sjahrir, Tan Malaka, yang telah mendharmabhaktikan kehidupannya bagi kemerdekaan Indonesia.

Tidak ketinggalan seorang putra Muaralabuh bernama Zakaria (lahir tahun 1905 di Sapan Pakan Rabaa Muara Labuh). Almarhum Zakaria merupakan anak pertama dari delapan bersaudara pasangan pasangan H. Adurahman Datuak Kali Bandaro (Haji Pukek) dengan istri Rafi’ah dari suku durian sirampak.

Tahun 1926 almarhum Zakaria ditangkap Belanda di Sungai Pangkua Pekan Rabaa Muaralabuh. Beliau pertama kali ditahan di penjara Muaralabuh, kemudian dipindahkan ke penjara Muaro di Padang, dan selanjutnya dikirim ke penjara Cipinang Jakarta. Selama dua tahun di penjara Cipinang terjadi kerusuhan massal dalam penjara Cipinang, maka tahun 1928 beliau dikirim ke Digul, yaitu sebuah kamp pengasingan bagi kaum nasionalis garis keras di Tanah Merah, sekitar 200 mil dari pantai menyusuri sungai Digul, Irian.

Mollly Bondan, seorang wanita Australia yang menikah dengan Mohammad Bondan wartawan dan pejuang kemerdekaan yang juga dibuang ke Digul oleh Belanda tahun 1932, dalam bukunya “Spanning a Revolution” (pustaka Sinar Harapan Jakarta 1992) banyak menceritakan tentang kehidupan para perintis/pejuang kemerdekaan melawan Belanda di kamp pengasingan Digul, termasuk upaya pelarian para tawanan yang terjadi tanggal 21 Juni 1936 karena tekanan mental, akibat perlakuan Belanda. Diantaranya peristiwa mengamuknya Sukur Datuk Bandaro Kuniang (salah seorang pejuang kemerdekaan berasal dari Sumatera), bersama teman-temannya Djmaludin Tahia.

Zakaria salah satu pejuang senasib dan beberapa orang lainnya, untuk mencegah mengamuknya Datuk Bandaro Kuning, karena tersebar isu pemulangan beberapa tawanan yang akan diangkut oleh sebuah kapal yang sedang berlabuh disungai Digul, membawa beberapa wartawan dan turis yang sedang menyelidiki perlakuan Pemerintah Belanda terhadap para tawanan politik di kamp konsentrasi Digul.

Pada waktu Jepang menguasai Indonesia tahun 1942 dan Belanda menyerah kepada Jepang, sekitar 500-an orang tawanan dari Tanah Merah diungsikan dari Belanda ke Australia. Dan dari 1200 orang tawanan politik/pejuang kemerdekaan yang di tahan Belanda di Tanah Merah , sekitar 300-an orang tawanan meninggal karena kelaparan dan perlakuan yang tidak manusiawi. Juga penyakit malaria serta penyakit yang dikenal sebagai black water fever (Marshall p.103).

Menurut Jack Morrison (laporan Konferensi AIA 1965), bahwa ketika di Melbourne Zakaria (saat itu populer dengan nama Jack Zakaria) membentuk Komite Kemerdekaan Indonesia pada tahun 1944 (Lockwood p.21) dan mempunyai cabang di Sydney serta beberapa kota lainnya. Komite ini menyelenggarakan rapat-rapat umum yang menarik banyak perhatian masyarakat Australia, yang turut mendukung kemerdekaan Indonesia.

Upaya Belanda untuk menguasai Indonesia melalui NICA (Netherland Indische Civil Administration), berusaha mengirimkan persenjataan untuk memperkuat tentara Belanda melalui sekutu, yang telah memenangkan perang melawan Jepang. Di pelabuhan Brisbane terjadi pemogokan buruh yang menolak memuat barang ke kapal, karena ketika buruh menemukan senjata yang akan dikirim Belanda dengan kamuflase fasilitas kesehatan. Komite kemerdekaan ini, bekerjasama dengan CENKIM di Brisbane yang telah menjadi “Ibu kota bayangan” bagi para Republicant Indonesia di luar negeri (Australia).

Karena kegiatannya di Australia dalam mendukung kemerdekaan Indonesia dan karena perkawinannya dengan seorang gadis Australia bernama Jean Rosanna Webster (Jean Zakaria), kelahiran 1922 di North Carlton Negara Bagian Victoria, Brisbane Quensland, maka Jack Zakaria diperiksa oleh Departemen Imigrasi Australia, dan hanya diijinkan untuk tinggal di Australia untuk sementara. Setelah perang dunia ke-II selesai akan dipulangkan ke Indonesia dengan rombongan terakhir orang-orang Indonesia yang dianggap telah bergabung dengan para pejuang lain melawan Belanda di Australia. Khusus Jack Zakaria, ia dipulangkan ke Indonesia, disamping kegiatan politiknya melawan Belanda, juga karena Zakaria telah menikah dengan wanita Australia berkulit putih, karena saat itu Australia menjalankan White Australian Policy (Diskriminasi terhadap kulit berwarna).

Menurut Jean Zakaria dalam laporan konferensi AIA tahun 1965, Zakaria tidak akan di deportasi dari Australia apabila ia memutuskan hubungan dengan istrinya. Selanjutnya Zakaria ditahan di penjara Pentridge Brisbane pada Desember 1946, dan pada 2 Mei 1947 Zakaria dipulangkan ke Indonesia. Perkembangan ini istrinya sama sekali tidak diberitahu tentang penahanan suaminya Zakaria. Bahkan Jean Zakaria dilarang mengikuti suaminya ke Indonesia, dengan alasan bahwa Indonesia tidak aman bagi orang Australia untuk berada di Indonesia pada saat itu.

Adapun kisah peranan Zakaria dalam mendukung perjuangan kemerdekaan Indonesia setelah Jepang menyerah kepada Sekutu dan upaya Belanda melalui NICA untuk kembali menjajah Indonesia, serta penderitaan Zakaria di Australia setelah menikah dengan Jean Rosanna Webster, banyak didapat dari dokumen yang ditinggalkan kepada anak tunggalnya yang bernama Nooraya Zakaria (lahir tahun 1947 di Melbourne). Nama Nooraya diambil/disamakan dengan nama adik kandung Zakaria di Sapan Muaralabuh (wafat tahun 1996).

Nooraya menemukan berkas surat-surat dari ayah kandungnya yang tetap disimpan apik oleh ibundanya Jean Rosanna Zakaria (wafat tahun 1979), sehingga Nooraya berkesimpulan betapa hangat dan tulusnya cinta Ibu dan Ayahnya. Walaupun Jean Rosanna Zakaria tahu bahwa Zakaria telah meninggal pada 12 Agustus 1948 di Yogyakarta dan dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Krapyak, Yogyakarta. Dan berita meninggalnya Zakaria disampaikan secara resmi oleh Konsulat Jenderal Belanda untuk Negara Bagian Victoria tanggal 9 Juni 1949.

Penulis sebagai kemenakan kandung almarhum Zakaria, telah ziarah pertama kali ke makam beliau tahun 1959 (bersama Nooraya (alm) adik kandung Zakaria, Djama’iah sepupu Zakaria, dipandu oleh Bapak H. Baharuddin Hamzah, SH (Dewan Penasehat Bakor Ikamass) yang saat itu mahasiswa Universitas Gajah Mada Yogyakarta.

Dari cerita ibu kost Alm Zakaria di Suryoningratan 29A Yogyakarta, saat itu penulis mendapat banyak keterangan tentang penderitaan Zakaria, selalu dicari oleh mata-mata Belanda karena peranannya dalam pemogokan buruh pelabuhan di Australia, ketika sebuah kapal yang akan berlayar ke Indonesia memuat senjata untuk NICA di Indonesia. Sayang sekali tidak satupun barang-barang peninggalan Zakaria tersimpan ditempat kostnya.

Pada September 1995 Nooraya Zakaria beserta anaknya Philips datang kembali ke Indonesia. Kemudian kami berangkat bersama-sama ke Yogyakarta untuk ziarah ke makam ayahnya Zakaria, serta mengunjungi bekas ibu kost ayahnya di Suryoningratan 29A. Namun sayang sekali ibu kost dimaksud sudah uzur sehingga tidak bisa memberikan keterangan yang jelas tentang kehidupan terakhir Zakaria selama di Yogyakarta. Dan bulan Mei 1995 Nooraya mengunjungi Muaralabuh (keluarga bakonya) bertemu dengan (alm) Maetek Datuak Rangkayo Majolelo, adik kandung terakhir ayahnya.

Banyak cerita yang didengar Maetek tentang kakaknya Zakaria yang ditangkap Belanda tahun 1926, yang didengarnya dari orang-orang yang langsung melihat penangkapan itu. Banyak pula cerita yang menunjukkan kekejaman Belanda terhadap pejuang yang ditangkap Belanda tahun 1926 itu, terutama yang berkaitan dengan pemberontakan di Silungkang. Namun kini saksi hidup sudah tidak ditemukan lagi, kecuali orang tua yang tinggal di Mudiaklolo Muaralabuh yang pernah mengantarkan rokok untuk Zakaria di penjara Muaralabuh. Pada waktu itu orang tua dimaksud masih berumur 11 tahun.

Namun dari literatur yang ditemukan di Australia dan dihimpun oleh Nooraya Zakaria, dapat disimpulkan bahwa selama Zakaria berada di Australia sejak tahun 1942 sampai di deportasi ke Indonesia dari Brisbane bulan Juni 1947, perjuangan beliau melawan penjajahan Belanda tidak pernah terhenti, dengan menerbitkan pamflet, pertemuan-pertemuan umum serta menjadi Ketua Komite Kemerdekaan Indonesia di Melbourne, sampai memimpin pemogokan buruh pelabuhan di Brisbane.

Biografi

  1. Nama : Zakaria
  2. Tempat/Tanggal Lahir : Sapan, Pekan Rabaa, Muaralabuh, Tahun 1905
  3. Nama Ayah : Haji Abdurahman, gelar Datuak Kali Bandaro, dikenal dengan nama Haji Pukek dari suku Kampai.
  4. Nama Ibu : Rafi’ah dari suku Durian/Sirampak dalam kaum Datuak Rangkayo Majolelo.
  5. Saudara : 1. Zakaria (beliau adalah anak pertama)
  6. (Almh) Sya’bania
  7. (Alm) Ma’as
  8. (Alm) M Yunus.
  9. (Almh) Hj. Nooraya
  10. (Alm) Yahya, wafat tahun 1948 di Lampung, di tembak Belanda.
  11. (Almh) Hj. Saribulan
  12. Hj. Sori.
  13. (Alm) Umar Bakri, Maetek, Datuak Rangkayo Majolelo
  14. Istri :
  • Pertama :  (Almh) Maraya, Pekan Rabaa Muaralabuh, dengan anak Ramaisun.
  • Kedua :  Jean Rosanna Zakaria, dengan anak Nooraya Zakaria, dengan cucu Philips Zakaria.

Ingat Tinggalkan Komentar (saran )

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s