Westerbork: Sisa Nyata Genosida oleh Jerman


Masa silam menyebabkan dilema di Belanda: apakah sebuah barak yang dulu berasal dari kamp konsentrasi Westerbork perlu dikembalikan dan dipugar kembali? Kamp konsentrasi adalah pusat penahanan kelompok yang dalam pandangan Nazi Jerman patut dimusnahkan. Lalu apakah bekas barak yang asli ini harus dikembalikan ke pusat peringatan kamp konsentrasi ini?

sds

Westerbork terletak di provinsi Drente di Belanda utara. Di daerah pedesaan ini, tentara Nazi Jerman yang menduduki Belanda selama perang dunia kedua mendirikan pusat penampungan tawanan yang akan mereka bantai di Jerman. Orang yahudi, jipsi, homoseksual dan semua golongan yang oleh nazi jerman dianggap tidak cocok dengan ideologi rasialis mereka ditawan dulu di Westerbork, sebelum mereka dikirim ke konsentrasi kamp di Jerman untuk dimusnahkan. Demikian juga Anne Frank, sosok anak Yahudi yang menjadi terkenal sebagai simbol penderitaan para korban pembantaian nazi Jerman, setelah buku hariannya terbit.

Pusat Peringatan

Masih tersisa barak yang sayangnya saat ini sudah dimanfaatkan sebagai kandang babi. Para pengelola kamp Westerbork yang kini menjadi pusat peringatan kejahatan Nazi Jerman ragu-ragu, namun para pengunjung pusat peringatan di Westerbork ini selalu minta di mana peninggalan yang asli. Lalu bagaimana menanggapi keinginan ini? Bagaimana kita mengantisipasi masa silam?

 

Saya berusia 12 tahun waktu tiba di sini. Sangat menakutkan. Saya tidak ingat lagi bagaimana bentuk barak ini, yang saya ingat adalah lumpur dan di seberang jalan, setelah pagar kawat berduri, semak-semak yang berkembang.

 

Demikian Carla Josephus Jitta, ia adalah salah seorang tahanan Nazi Jerman di kamp konsentrasi Westerbork ini selama perang dunia kedua.

 

Masih bisa saya bayangkan kamp ini menyerupai neraka, namun saat ini pemandangannya asri, rumput nan hijau dengan pepohonan rindang. Total berbeda dengan apa yang ada saat itu, tidak bisa kita bayangkan perubahannya.

 

Saat itu kamp Westerbork ini dihuni tahanan yang tidak tahu pasti kapan mereka akan dibawa definitif ke pusat pemusnahan Nazi Jerman di Jerman, itulah yang menakutkan bagi Carla dan tahanan lain.

Lapangan Terbuka

Namun Westerbork berubah sekali, bekas kamp tahanan ini kini adalah lapangan rumput terbuka, dengan pohon di sana sini. Taman yang sepi dengan beberapa monumen untuk para korban keganasan nazi Jerman. 107 ribu tahanan dibawa ke Westerbork, hanya 5 ribu yang selamat dan kembali setelah perang dunia kedua berakhir.

 

Kita sekarang berdiri di lapangan yang kosong, dengan beberpa pohon, namun phon-pohon ini menandai batas kamp konsnetrasi yang sudah hilang. Kita bisa mengenali bentuk segi empat kamp ini dan tentu sja rel kereta api yang dipakai untyuk kereta api pengangkut mereka yang ditahan. Julukannya dalam bahasa Prancis: Boulevard des Misére, atau jalan kesusahan.
Demikian Anne Bitterberg staf Pusat peringatan kamp Westerbork ini. ia menambahkan selama periode paling ramai yaitu akhir 1942 sampai awal 1943, 20 ribu tahanan tinggal di kamp ini. kamp ini merupakan kamp di alam terbuka di tengan hutan berukuran 500 kali 500 meter. Ia sering mendengar keluhan dari para tahanan:

 

Tidak ada privacy sama sekali.

 

Penampungan Orang Maluku
 
Setelah perang dunia berakhir, kamp Westerbork beralih penggunaannya: bekas kamp tahanan yang dimusnahkan di Jerman ini menjadi tempat penampungan orang Maluku yang hijrah ke Belanda.

Wim Manuhutu, direktur Museum Sejarah Maluku di Belanda menyatakan:

 

Memang kamp Westerbork bersama kamp Vught sangat bersejarah, yang punya kaitan erat bukan saja dengan perang dunia kedua namun juga dengan kedatangan migran Indonesia ke Belanda, sesudah perang dunia kedua. Misalnya orang Maluku. Saya sangat kecewa tempat yang bersejarah ini kehilangan fungsinya. Apalagi dalam satu jaman di mana sejarah itu penting. Belanda sedang mencari identitas diri lalu bagaimana kalau orang Belanda tidak tahu sejarahnya. Pasti mereka akan susah menjawab pertanyaan siapa sebenarnya orang Belanda. Tempat ini bisa menjadi tempat pameran untuk menunjuk pada apa dampak rasialisme, sayang kalau fungsi ini hilang.

 

Tahun 1970 kamp ini digusur total dan diganti dengan beberapa monumen. Baru pada tahun 1983 didirikan museum dan setelah itu bekas gedung kamp dan rel kereta api untuk transpor para tahanan mulai dipatok dengan jelas.

Kandang Babi

Para pengunjung sering menanyakan bekas-bekas asli kamp Westerbork, demikian Anne Bitterberg. Museum dan monumen rupanya belum memuaskan banyak pengunjung. Rumah bekas komandan Jerman kamp Westerbork kini sudah kosong. Bisa dibeli oleh pengurus monumen nasional Westerbork kemudian dipugar. Ihwal cara memamerkannya masih menjadi bahan diskusi, karena kehidupan mewah sang komandan nazi ini tidak mungkin bisa dipamerkan kalau tidak ada contoh kehidupan sehari-hari para tawanan yang menderita.

Lebih susah lagi adalah pertanyaan apakah barak yang masih tersisa harus dikembalikan ke kamp ini. Seorang peternak babi membelinya pada tahun 1970, dan sejak itu menjadi kandang babi.

 

Memang bahan kayunya masih utuh, tapi setelah 30 tahun dihuni babi susah juga untuk menyebutnya barak, tidak ada yang orisinil lagi.

 

Demikian Anne Bitterberg. Namun organisasi yang mengelola monumen ini bertekad membelinya kembali.

 

Ihwal pemanfaatannya akan ditentukan kelak. Demikian Anne Bitterberg.

 

 Dilema
 
vxc

 

Sang peternak babi baru mau menjual barak ini kakau ia mendapat cukup uang untuk mendirikan kandang baru. Ia minta beberapa ratus ribu euro. Dengan uang itu susah juga untuk menghilangkan bau 30 generasi babi yang dikandang di barak itu. Mantan tahanan di kamp ini, Carla Josephus Jitta menyatakan kandang yang dulu barak ini tidak perlu masuk ke monumen Westerbork.
Ini adalah hal yang tidak sebenarnya, tidak membuat orang percaya. Orang akan membikin lelucon. Jangan lupa kami diperlakukan sebagai babi oleh Nazi Jerman, dianggap bukan mahluk yang normal. Ini sudah terlambat, dulu orang harus lebih sadar untuk mempertahankannya, nasi sudah menjadi bubur.

Masalah ini menjadi dilema untuk pengurus pusat peringatan kamp Westerbork dan untuk Belanda. Bagaimana sikap kita terhadap warisan budaya asal perang dunia kedua yang masih tetap peka itu. Di pugar dan dismpan dengan baik, itulah kesimpulan yang bisa ditarik untuk sementara ini

Ingat Tinggalkan Komentar (saran )

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s